Catatan Tentang Fanatisme Politik di Pakistan

Tulisan yang ditulis oleh seseorang dari Pakistan mengenai sifat-sifat orang dengan fanatisme politik yang berlebih di negara asalnya

Catatan Tentang Fanatisme Politik di Pakistan
Sumber: india.com

Tidak peduli apa situasinya, politik selalu menjadi salah satu topik yang kita bahas, entah itu digunakan dalam sekadar basa basi atau memang dalam pembicaraan yang serius. Dari pertemuan non formal, seperti pernikahan atau makan siang, hingga pertemuan formal seperti meeting kantor, kita pada umumnya cenderung membahas politik. Sebagai negara berkembang, tidak hanya menguntungkan tetapi merupakan keperluan bagi warga negaranya untuk menyadari situasi politik dan kebijakan yang sedang dilaksanakan. Semakin banyak orang melek informasi, semakin baik mereka dalam memilih kandidat untuk memimpin negara mereka.

Orang-orang fanatik adalah orang-orang dengan pandangan ekstrim, mereka menunjukkan sikap tidak perduli terhadap pandangan-pandangan yang berlawanan dan, sebagaimana digambarkan oleh filsuf George Santayana, mereka melipatgandakan upaya mereka tetapi juga melupakan tujuan mereka. Di dalam dunia mereka, itu adalah cara mereka menunjukkan komitmen mereka pada keyakinan mereka, sambil memandang rendah siapapun yang tidak setuju atau bertentangan. Karena pandangan ekstrem inilah mereka mulai tidak dapat membedakan pendapat dengan fakta. Selalu meyakinkan diri mereka bahwa jalan mereka adalah satu-satunya cara dan mulai melihat dunia dalam warna hitam dan putih, lupa akan adanya lapisan lain yang ada di tengah-tengahnya.

Alasan mengapa hal ini adalah suatu masalah yang besar adalah kenyataan bahwa karena dengan pola pikir yang tidak toleran dan agak bodoh ini, kita cenderung melewati batas dari diskusi ke kekerasan. Kita semua telah melihat orang-orang saling melukai atas nama politik atau agama, sampai-sampai mereka bahkan mungkin melakukan pembunuhan. Untuk waktu yang sangat lama, orang-orang Pakistan telah membagi diri menjadi kelompok-kelompok berdasarkan kasta, agama dan sisi politik yang berbeda. Ketika berbicara tentang topik-topik tersebut, sudah sering bagi kita untuk memutuskan tali persahabatan dan menyakiti orang lain hanya karena perbedaan pendapat. Bukannya membuat diri kita untuk melek informasi dan terbuka pada ide-ide baru, kita membiarkan orang lain berpikir untuk kita, menganggap pendapat yang bertentangan sebagai bentuk penghinaan, dan berpendapat dengan menggunakan agresi, daripada kata-kata. Karena hal itu, banyak orang yang harus menyembunyikan identitasnya, pandangan politik atau agama mereka agar merasa aman.

Untuk melawan budaya dogmatisme1 dan fanatisme2 ini, kita membangun struktur dan mengikuti suatu protokol tertentu, tetapi ini bukan solusi. Sebagai solusi, kita harus menerima bahwa kita tidak akan pernah menemukan ide, sudut pandang, bahasa, atau budaya yang dapat disepakati semua orang. Betapa pun itu akan membuat kita frustrasi, realitas kita adalah dunia multi-budaya yang beragam. Jalan ke depan adalah melalui demokrasi, pendidikan, informasi, dan dengan memastikan bahwa Anda dan saya memberikan waktu untuk diri kita sendiri dan membiarkan diri kita untuk meragukan bahwa kita selalu benar. Fanatisme juga berpotensi berada dalam diri kita semua. Multikulturalisme tidak menciptakan fanatik, tetapi memberi kita kemungkinan untuk menyembuhkan fanatisme kita sendiri jika kita berani mengakui bahwa kita tidak selalu benar.

1 Arti Dogmatisme adalah paham yang berdasarkan dogma. Arti Dogma adalah Pokok ajaran (tentang kepercayaan, agama, dan sejenisnya) yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan.

2 Arti Fanatisme adalah Keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dsb).

Sumber: http://bit.ly/2SKOJb0