Medsos Sarang Penyebar Berita Hoax

Penggunaan media sosial sebagai sumber berita pengganti koran dan media tradisional lainnya membantu mempermudah penyebaran informasi yang salah dan berita palsu atau hoax

Penelitian menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi sumber berita utama bagi kebanyakan orang. Karena media sosial itu adalah salah satu instrumen dari hyperconnectivity, cara kerjanya dapat membantu penyebaran informasi yang salah dan memunculkan berita-berita palsu

Dengan lebih dari 3 miliar pengguna di seluruh dunia, tidak ada keraguan bahwa media sosial mewakili sebuah revolusi dalam cara manusia berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Menggunakan media sosial merupakan cara yang nyaman, mudah dan murah untuk mengakses informasi dan tetap mendapatkan informasi terkini, tetapi juga merupakan ladang ranjau informasi salah dan berita palsu.

Media sosial telah menjadi sarana utama bagi pelaku bisnis dan para politisi untuk menjangkau audiens mereka. Orang-orang telah meninggalkan koran dan media tradisional lainnya, dan beralih ke media sosial seperti Facebook, Twitter dan WhatsApp untuk mendapatkan informasi terbaru.

Di Amerika Serikat, 67 persen peserta survei mengatakan bahwa mereka mendapatkan berita dari media sosial, dengan 45 persen melaporkan mendapatkannya hanya dari Facebook saja. Situasi di Eropa sedikit lebih bagus tetapi tetap memprihatinkan. Di Uni Eropa, 13 persen konsumen mengatakan bahwa mereka mengikuti politik Eropa melalui media sosial, dengan angka naik menjadi 16 persen tentang politik dalam negeri. Di Swedia dan Denmark, media sosial berfungsi sebagai sumber informasi utama bagi 30 persen konsumen.

Problem yang lebih mengkhawatirkan terdapat di negara-negara berkembang seperti Brasil, India dan Nigeria, yang merupakan pengguna terbesar WhatsApp dan jejaring sosial lainnya.

Selama pemilihan presiden baru-baru ini di Brasil, sebuah penelitian menganalisis 100.000 gambar yang dibagikan melalui WhatsApp dan menemukan bahwa lebih dari setengahnya berisi informasi yang menyesatkan atau keliru.

Di India, di mana berita palsu viral telah menyebabkan kekacauan dan insiden fatal, WhatsApp menayangkan iklan di TV untuk memperingatkan pengguna tentang masalah tersebut. Kampanye iklan tersebut berdurasi 60 detik untuk mengajar penggunaan Whatsapp yang baik dan benar dan tips-tips seperti cara meninggalkan grup yang isinya banyak menyebarkan informasi salah, dan juga cara memblokir pengirim yang tidak dikenal.

Kampanye iklan tersebut merupakan tidak lanjut dari kritik serius dari pemerintah India terhadap platform komunikasi Whatsapp dan bertujuan untuk menciptakan kesadaran yang lebih luas tentang masalah itu menjelang pemilihan umum yang akan diadakan di India.

Bahkan di negara maju dan demokrasi yang kuat, berita palsu dipahami sebagai masalah oleh sebagian besar populasi. Penelitian oleh Komisi Eropa menunjukkan bahwa 85 persen responden UE meyakini berita palsu sebagai masalah di negara mereka, dengan hampir 83 persen menganggap informasi yang salah atau salah sebagai ancaman terhadap demokrasi.

Masalah mendasar dengan menggunakan media sosial sebagai sumber berita adalah bahwa hal itu membutakan orang dalam diskusi grup. Matteo Flora, seorang pakar digital, berkata bahwa, "Sebagian besar orang tidak terbiasa melihat perdebatan politik lagi dan terkurung dalam gelembung media sosial mereka sendiri, selalu mengkonsumsi jenis informasi yang sama."

Konsumsi terus menerus akan berita yang berpihak ke suatu sisi, akan mengarah pada debat dan isolasi yang tidak sehat. Jadi sangat penting untuk berada di tempat atau lingkungan dimana penggunanya dihadapkan pada pandangan yang berbeda-beda dan tidak berakhir menjadi korban dari suatu mesin algoritma yang terus-menerus memberikan lini masa yang penuh dengan artikel yang itu-itu saja.

Sumber: https://medium.com/@cassiopeiaservicesltd/fact-or-fiction-social-media-as-news-source-increases-spread-of-fake-news-bf747a0821d1